Mengapa Situs Judi Online Sulit Diblokir? Tantangan Kominfo!

Banyak yang bertanya mengapa situs judi online terus bermunculan meski diblokir. Artikel ini menjelaskan tantangan Kominfo, dari penggunaan VPN hingga taktik baru operator judi yang licik.

Mitos dan Fakta di Balik Pemblokiran Judi Online

Setiap kali sebuah situs judi online diblokir, tidak butuh waktu lama hingga puluhan situs baru bermunculan dengan nama dan alamat berbeda. Fenomena ini seringkali menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat: mengapa situs judi begitu sulit dibasmi? Benarkah ada pembiaran?

Alih-alih melindungi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) justru berada di garis depan sebuah perang yang tak pernah usai. Perang ini bukan melawan musuh yang statis, melainkan musuh yang menggunakan taktik gerilya dan teknologi canggih. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi Kominfo dalam upaya membasmi perjudian online.

1. Perang Tanpa Henti Melawan Munculnya Situs Baru

Proses pemblokiran oleh Kominfo, yang sering disebut “internet positif,” bekerja seperti memotong kepala monster Hydra. Setiap satu situs berhasil diblokir, para operator judi online dengan cepat mendaftarkan puluhan atau ratusan domain baru. Mereka menggunakan infrastruktur dan data yang sama, hanya dengan URL yang berbeda. Siklus ini berulang terus-menerus, membuat Kominfo harus terus-menerus memantau dan memblokir, yang membutuhkan waktu dan sumber daya yang besar.

2. Teknologi VPN dan Proxy: Senjata Utama Pengakses Judi

Pemblokiran situs judi online oleh pemerintah hanya bekerja di tingkat DNS (Domain Name System) di dalam negeri. Sayangnya, para pemain judi online dapat dengan mudah mengakalinya. Mereka menggunakan VPN (Virtual Private Network) atau proxy yang mengalihkan lalu lintas internet melalui server di negara lain. Dengan cara ini, akses ke situs yang sudah diblokir menjadi mudah kembali, membuat upaya pemblokiran menjadi kurang efektif di mata publik.

3. Modus Operandi yang Terus Berubah

Para operator situs judi online tidak hanya bergantung pada situs web konvensional. Mereka terus-menerus mengembangkan modus operandi untuk menghindari deteksi. Promosi dan akses sekarang banyak dilakukan melalui platform media sosial seperti TikTok, grup Telegram, atau pesan WhatsApp. Hal ini mempersulit Kominfo, karena mereka harus memantau dan berkoordinasi dengan platform-platform tersebut untuk menindak konten yang melanggar. Ini adalah tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memblokir URL.

4. Keterbatasan Sumber Daya dan Skala Masalah

Skala masalah perjudian online di Indonesia sangatlah besar. Dengan ribuan domain baru yang muncul setiap hari dan penggunaan teknologi yang terus berevolusi, Kominfo menghadapi keterbatasan dalam hal sumber daya manusia dan teknologi untuk mengimbangi laju tersebut. Butuh kerja sama yang erat dengan berbagai pihak, termasuk penyedia layanan internet (ISP) dan platform digital, untuk membuat proses pemblokiran lebih cepat dan komprehensif.

Singkatnya, persepsi bahwa Kominfo “melindungi” perjudian online seringkali muncul dari frustrasi publik terhadap lambatnya hasil. Namun, kenyataannya adalah Kominfo berada di tengah “perang digital” yang sangat dinamis, di mana pemblokiran adalah satu dari banyak langkah dalam pertempuran yang jauh lebih besar dan kompleks.